
Saya migrasi dari Notion ke Obsidian setelah teleponan dengan teman. OpenWork jadi AI tool yang baca vault. Combo ini bikin catatan pribadi bisa diakses AI tanpa terikat satu provider.
Di awal bulan Juni 2026, saya teleponan dengan teman, Fawaz. Obrolan random: kerjaan, tech, AI. Di tengah percakapan, dia cerita sudah beberapa bulan pakai Obsidian untuk catatan, digabung dengan Cowork. Katanya enak, sampai kecanduan.
Saya jadi flashback ke sebelum 2020, sebelum lockdown COVID di Indonesia. Waktu itu saya pernah coba Obsidian. AI untuk konsumen umum belum ada. ChatGPT belum lahir. Obsidian waktu itu cuma buat view readme. Notion lebih cocok karena butuh fitur share.
Besok paginya setelah ngobrol, saya dapat email. Email yang saya pakai untuk Notion bakal expired. Dua kejadian ini – obrolan sama Fawaz, email expired – kayak sinyal. Mungkin ini saatnya nyoba lagi.
Yang bikin migrasi ini beda: saya tidak cuma pindah catatan. Saya pindah karena ingin catatan saya bisa dibaca AI. Fawaz pakai Claude Cowork. Tapi saya tidak subscribe Claude. Saya ingin yang bisa pakai model AI apa saja. Fleksibel. Saat ini saya pakai OpenCode, dan ternyata ada OpenWork. Jadi saya pakai OpenWork. Ketika artikel ini diposting, sebagian besar sudah langsung pakai OpenCode.
Tujuan saya jelas dari awal: Obsidian sebagai tempat catatan, OpenWork sebagai AI tool yang baca vault. Dua hal yang nyambung. Bukan Obsidian doang, bukan OpenWork doang. Tapi kombo keduanya.
Untungnya dari dulu saya mulai bikin catatan termasuk journaling, pakai framework PARA dari buku Tiago Forte soal Building a Second Brain. Strukturnya: Projects, Areas, Resources, Archives. Notion saya sudah full PARA. Begitu milih pindah, saya sadar sesuatu. Framework catatan itu platform-agnostic. Tidak terikat ke platform tertentu. Bukan struktur punya Notion atau Obsidian. Punya saya, dari hasil penyesuaian dengan workflow.
Migrasinya simpel. Bikin folder yang sama di Obsidian. Import dari Notion (ada plugin-nya di Obsidian). Selesai.
Yang bikin saya "oh" itu pas pertama kali colokin vault Obsidian ke OpenWork. Tinggal pointing folder, dan OpenWork langsung bisa baca knowledge dari file .md. Journal, catatan teaching, ide project. Semua interconnected, semua kebaca. Saya bisa tanya "apa insight teaching yang pernah saya tulis tahun ini?" dan AI jawab pakai konteks dari vault. Bukan dari memorinya, dari data saya sendiri.
Karena OpenWork multi-provider, saya bisa ganti-ganti model. Hari ini pakai Claude, besok Gemini, lusa DeepSeek. Tanpa briefing ulang, tanpa setup ulang. Vault tetap sama, sistem tetap jalan.
Saya bukan bilang Notion itu jelek. Notion bagus, masih saya pakai untuk beberapa hal. Tapi saat ini, untuk saya pribadi, catatan pribadi ditambah AI yang agnostic adalah combo terbaik.
Saya sudah migrasi di awal Juni 2026. Rasanya mantap. Saya tidak terikat ke satu provider, dan konteks atau knowledgenya sesuai dengan yang saya mau.
Di cerita berikutnya saya akan ceritain struktur awal atau minimal dari sistem yang saya coba bangun ini. Semoga bermanfaat.
Drafted by a large language model from the source reporting linked above, then screened by automated publishing checks. It is not read by a journalist before publication. Some articles cite our Alpha Score. Verify prices and figures against the original source. Educational coverage, not personalized advice.