
Satelit kini mengambil keputusan sendiri di orbit tanpa menunggu perintah Bumi. Dari 355.000 manuver Starlink hingga edge AI di Phi-Sat-2, teknologi ini mengubah siapa yang mengendalikan infrastruktur kritis di luar angkasa.
Di ketinggian 500 kilometer, dengan kecepatan 27.000 km/jam, tidak ada waktu untuk menunggu perintah dari Bumi. Sebuah satelit di orbit rendah menghadapi situasi yang setara dengan hambatan di jalan tol pada kecepatan 300 km/jam. Tidak ada bahu jalan untuk menepi. Tidak ada panggilan telepon untuk meminta instruksi. Waktu tempuh sinyal dari pusat kendali di darat, beberapa detik hingga menit tergantung jarak, bisa berarti perbedaan antara selamat dan hancur.
Itulah mengapa kecerdasan buatan telah bergerak dari opsi mewah menjadi kebutuhan mutlak dalam industri luar angkasa.
Urgensi ini berasal dari masalah angka yang sederhana. Antara 2020 dan 2024, jumlah satelit aktif di orbit tumbuh lebih dari 30 persen setiap tahun. Per Juni 2024, terdapat lebih dari 10.125 satelit aktif di orbit, dan pertumbuhannya tidak menunjukkan tanda melambat.
Satelit aktif hanya sebagian dari gambaran. Angkatan Luar Angkasa AS melacak lebih dari 25.000 keping debris berukuran di atas 10 sentimeter. Fragmen yang lebih kecil, terlalu kecil untuk dilacak, jumlahnya mencapai ratusan juta. Semuanya menempati ketinggian yang sama tempat satelit operasional terbang.
Selama puluhan tahun, satelit bekerja dengan logika sederhana: terima perintah dari Bumi, jalankan, kirim data kembali. Mereka adalah alat yang canggih tetapi tetaplah alat, kamera mahal yang mengapung di langit menunggu instruksi.
AI mengubah paradigma itu secara fundamental.
Pada Juli 2025, NASA menguji teknologi bernama Dynamic Targeting di atas CogniSAT-6, sebuah satelit seukuran koper. Satelit itu melihat ke depan sepanjang jalur orbitnya, menganalisis gambar dengan AI onboard, dan memutuskan ke mana harus mengarahkan kameranya, semuanya dalam waktu kurang dari 90 detik, tanpa keterlibatan manusia sama sekali.
Sembilan puluh detik terdengar lambat. Satelit itu bergerak dengan kecepatan sekitar 27.000 km/jam. Dalam 90 detik, ia menempuh jarak lebih dari 600 kilometer.
Teknologi ini bekerja dengan memiringkan badan satelit ke depan untuk "mengintip" area yang akan dilewati. AI yang tertanam, dilatih untuk mengenali awan, menganalisis gambar secara instan. Jika langit cerah, satelit kembali ke posisi normal dan memotret permukaan Bumi. Jika tertutup awan, ia melewati area itu, menghemat penyimpanan, daya, dan bandwidth.
Sebelum teknologi ini ada, satelit memotret segalanya, termasuk hamparan awan yang luas. Data dikirim ke Bumi. Ilmuwan menyortir ribuan gambar yang tidak berguna. Prosesnya memakan waktu berhari-hari.
Sekarang, proses itu selesai dalam hitungan detik, ditangani oleh chip AI di dalam kotak logam seukuran koper yang meluncur di luar angkasa.
Contoh paling dramatis dari AI dalam operasi satelit adalah sistem penghindaran tabrakan yang dijalankan oleh konstelasi Starlink milik SpaceX.
Hingga pertengahan 2026, satelit Starlink melakukan lebih dari 355.000 manuver penghindaran tabrakan. Angka itu tiga kali lipat dari jumlah yang dilakukan sepanjang 2024. Hampir 1.000 manuver setiap hari, dijalankan oleh lebih dari 10.000 satelit yang beroperasi secara bersamaan.
Sistem ini berjalan secara otonom penuh. Setiap satelit Starlink secara independen menyalakan pendorongnya ketika kalkulasi onboard mendeteksi kemungkinan tabrakan melebihi satu dalam sejuta, ambang batas yang 100 kali lebih ketat dari standar industri antariksa umumnya.
Tidak ada operator manusia yang duduk di pusat kendali menekan tombol untuk setiap manuver. Tidak ada rapat darurat antara insinyur sebelum keputusan diambil. AI membaca situasi, menghitung lintasan, dan menembakkan pendorong, semuanya terjadi sebelum manusia sempat sadar bahwa ada potensi bahaya.
Salah satu perkembangan paling signifikan adalah apa yang disebut insinyur sebagai edge AI, kecerdasan buatan yang beroperasi langsung di perangkat itu sendiri, bukan di server raksasa di Bumi.
Edge AI seperti otak kecil yang ditanamkan langsung ke dalam satelit. Ia tidak perlu mengirim data ke mana pun untuk diproses. Ia berpikir di tempat, secara real-time. Ini penting di luar angkasa karena sinyal dari orbit rendah ke daratan membutuhkan waktu tempuh, dan bandwidth komunikasi antariksa terbatas serta mahal.
Badan Antariksa Eropa meluncurkan Phi-Sat-2 pada Agustus 2024. Satelit mungil ini, berukuran hanya 22 kali 10 kali 33 sentimeter, membawa enam aplikasi AI yang berjalan langsung di dalamnya. Salah satunya secara otomatis mendeteksi dan membuang gambar yang tertutup awan sebelum data dikirim ke Bumi. Aplikasi lain dapat mengubah foto satelit menjadi peta jalanan secara langsung di orbit.
Selama bertahun-tahun, satelit pengamatan Bumi mengirimkan semua data yang mereka kumpulkan, berguna atau tidak, ke stasiun darat. Manusia atau komputer di darat menyortirnya. Prosesnya lambat, boros bandwidth, dan tidak efisien.
Dengan AI onboard, satelit sudah "tahu" data mana yang berguna sebelum mentransmisikannya.
Di luar efisiensi teknis, ada dimensi yang jarang masuk dalam perbincangan: kedaulatan data dan siapa yang sebenarnya mengontrol infrastruktur kritis ini.
Satelit bukan sekadar kamera terbang. Ia adalah infrastruktur untuk komunikasi, navigasi, pemantauan lingkungan, dan keamanan nasional. Ketika AI mengambil alih pengambilan keputusan di atas satelit, pertanyaannya menjadi: siapa yang memprogram AI itu? Siapa yang menentukan prioritasnya? Ketika terjadi kesalahan, siapa yang bertanggung jawab?
Pasar luar angkasa global mencapai rekor 613 miliar dolar pada 2024. McKinsey memperkirakan nilainya bisa tumbuh hingga 1,8 triliun dolar pada 2035. Sebagian besar pertumbuhan itu didorong oleh pemain komersial besar, bukan negara berkembang. Ini berarti negara-negara tanpa kapasitas teknologi satelit sendiri berisiko semakin bergantung pada infrastruktur yang dibangun, dioperasikan, dan dikontrol oleh pihak luar.
Indonesia bukan pemain pinggiran dalam lanskap ini. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut dari Sabang sampai Merauke, negara ini bergantung pada teknologi satelit untuk komunikasi, pemantauan bencana, pengawasan laut, dan deteksi kebakaran hutan.
BRIN, lembaga riset dan inovasi nasional yang kini menaungi riset antariksa Indonesia, telah membangun NEO-1, satelit generasi keempat untuk pengamatan bumi dengan kamera multispektral resolusi tinggi. Di sisi aplikasi, sistem pemantauan kebakaran hutan berbasis satelit yang dikembangkan BRIN dan KLHK diklaim berhasil menekan luas area karhutla hingga 30,8 persen sejak 2015.
Tantangannya adalah melangkah ke tahap berikutnya: bukan hanya menggunakan data satelit, mengintegrasikan AI ke dalam operasi satelit itu sendiri. Perbedaannya seperti antara membeli foto udara dan memiliki drone yang bisa terbang sendiri, menavigasi sendiri, dan mengambil gambar paling relevan tanpa harus disuruh.
Aplikasi konkret untuk Indonesia meliputi pengawasan maritim real-time untuk mendeteksi penangkapan ikan ilegal dan memantau jalur pelayaran di seluruh nusantara, respons bencana yang lebih cepat dengan satelit yang dapat secara otonom mengidentifikasi area terdampak banjir atau zona longsor dan memprioritaskan transmisi gambar, pemantauan pertanian presisi untuk kelapa sawit, padi, dan tanaman utama lainnya, serta deteksi kebakaran hutan otonom dengan satelit yang dapat mengidentifikasi titik panas dan mengarahkan tim darat tanpa menunggu analisis manusia.
Teknologi ini menjanjikan tetapi menghadapi tantangan nyata. Radiasi di luar angkasa merusak elektronik seiring waktu, dan chip AI tidak terkecuali. Daya terbatas pada satelit kecil, dan menjalankan model AI yang kompleks mengkonsumsi energi. Model itu sendiri harus dilatih di Bumi dan kemudian dikompresi cukup untuk berjalan di perangkat keras kelas satelit, masalah rekayasa yang tidak sepele.
Ada sesuatu yang mendalam, dan sedikit menggelisahkan, dari gagasan bahwa ribuan objek di atas kepala kita, pada ketinggian ratusan kilometer, bergerak dengan kecepatan luar biasa dan mengambil keputusan sendiri. Tanpa meminta izin siapa pun.
Arah industri sudah jelas, dan perjalanannya sudah jauh. Pasar AI di bidang kedirgantaraan dan pertahanan diproyeksikan tumbuh dari 1,98 miliar dolar pada 2025 menjadi 71,76 miliar dolar pada 2035, tingkat pertumbuhan tahunan 43 persen, menjadikannya salah satu segmen AI dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Pertanyaannya bukan apakah AI akan masuk ke operasi satelit. Itu sudah terjadi. Pertanyaan yang lebih penting adalah negara mana yang akan menentukan bagaimana AI itu bekerja, nilai apa yang ditanamkan ke dalam sistemnya, dan di mana Indonesia akan memposisikan diri dalam peta besar ini.
Apakah Indonesia akan tetap menjadi konsumen data dari satelit milik negara lain, yang dioperasikan oleh AI milik negara lain? Atau memiliki ambisi untuk ikut menentukan bagaimana otak-otak kecil di langit itu berpikir?
Itu bukan pertanyaan teknologi. Itu pertanyaan tentang masa depan kedaulatan.
Prepared with AlphaScala editorial tooling from the source reporting linked above. Indexable analysis may include a cited Alpha Score value. Publishing checks screen each story before release. Educational coverage, not personalized advice.